{"id":340,"date":"2022-08-22T17:30:29","date_gmt":"2022-08-22T08:30:29","guid":{"rendered":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/?p=340"},"modified":"2022-09-08T17:34:21","modified_gmt":"2022-09-08T08:34:21","slug":"tips-berkomunikasi-dijepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/blog\/pekerjaan\/tips-berkomunikasi-dijepang\/","title":{"rendered":"Tips Cara Berkomunikasi dengan Bos dan Bekerja Secara Efisien di Perusahaan Jepang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Tips Cara Berkomunikasi dengan Bos dan Bekerja Secara Efisien di Perusahaan Jepang<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-487\" src=\"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/F27_Berkomunikasi-dengan-BOS-300x300.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/F27_Berkomunikasi-dengan-BOS-300x300.png 300w, https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/F27_Berkomunikasi-dengan-BOS-1024x1024.png 1024w, https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/F27_Berkomunikasi-dengan-BOS-150x150.png 150w, https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/F27_Berkomunikasi-dengan-BOS-768x768.png 768w, https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/F27_Berkomunikasi-dengan-BOS.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Saat baru bekerja di perusahaan Jepang, tentunya perbedaan budaya dan gaya kerja akan menjadi penghalang besar bagi banyak orang asing. Mungkin sebagian dari Anda akan bertanya-tanya bagaimana cara berkomunikasi dengan atasan Anda secara tepat. Pada artikel ini, kami akan memberikan beberapa tips penting saat berkomunikasi dengan atasan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Kehormatan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Kehormatan adalah bentuk komunikasi yang menunjukkan rasa hormat dan sopan santun kepada orang lain. Dalam bahasa Jepang, honorifik biasanya dibagi menjadi tiga kategori utama: bahasa hormat, bahasa rendah hati, dan bahasa sopan. Tergantung pada setiap situasi, tujuan, konteks, dll untuk memilih kehormatan yang sesuai.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Bahasa hormat (\u5c0a\u656c\u8a9e-Sonkeigo):<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada seseorang dengan posisi lebih tinggi \u2013 atasan atau pelanggan \u2013 ketika berbicara tentang mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Untuk mengkonjugasikan kata ke dalam bentuk honorifik, ada 3 cara utama:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Cara pertama adalah mengubah kata menjadi bentuk pasif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Cara kedua cukup dengan mengucapkan atau , batang dari kata kerja dan kemudian . Namun, konjugasi ini tidak berlaku untuk kata kerja kelompok 3 (\u6765\u308b-kuru) dan kata kerja dengan suku kata di depan akhiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Cara terakhir, untuk kata kerja tidak beraturan, Anda dapat merujuk ke tabel di bawah ini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Bahasa rendah hati (\u8b19\u8b72\u8a9e-kenjougo):<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Digunakan untuk menunjukkan kerendahan hati ketika Anda berbicara tentang diri sendiri ketika berbicara dengan orang yang lebih tinggi statusnya, kenalan baru atau saat berbicara di telepon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Untuk mengonjugasikan kata ke dalam bentuk sederhana, ikuti rumus ini: atau + batang dari kata kerja + .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Misalnya:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">&#8220;\u304a&#8221; + Kata kerja terkonjugasi (misalnya \u304a\u8a71 dll.) + &#8220;\u3057\u307e\u3059&#8221;. <\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">&#8220;\u3054&#8221; + Gerund + &#8220;\u3057\u307e\u3059&#8221; (ganti &#8220;\u3057\u307e\u3059&#8221; dengan &#8220;\u3044\u305f\u3057\u307e\u3059&#8221; untuk menunjukkan lebih banyak kerendahan hati).<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Bahasa sopan (\u4e01\u5be7\u8a9e-teineigo):<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Menggunakan \u201c\u307e\u3059\u201d, \u201c\u3067\u3059\u201d di akhir kalimat. Ini adalah yang paling umum digunakan dalam komunikasi sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Metode kerja Jepang:<\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Metode Horenso:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Dalam bahasa Jepang, Horenso adalah singkatan dari 3 suku kata pertama dari frasa berikut: &#8220;H\u014dkoku&#8221; (\u5831\u544a, untuk melaporkan), &#8220;Renraku&#8221; (\u9023\u7d61, untuk memberi tahu) dan &#8220;S\u014ddan&#8221; (\u76f8\u8ac7, untuk berkonsultasi ).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Dengan demikian, dalam bekerja, karyawan harus secara berkala melaporkan (Hokoku) kepada atasan tentang kemajuan pekerjaan, masalah yang timbul atau tugas yang diselesaikan. Juga, secara teratur menginformasikan (Renraku), berdiskusi dengan rekan kerja dan bawahan, dan sepenuhnya memperbarui informasi untuk departemen terkait untuk menghindari kelalaian ketika masalah muncul. Terakhir, Anda harus berkonsultasi (S\u014ddan) dengan atasan Anda sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu. Horenso berarti proaktif di tempat kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Setiap organisasi Jepang menganut metode Horenso. Mereka menunjukkan bahwa Horenso sendiri adalah metode yang paling sistematis dan efektif untuk mengurangi risiko.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Model PDCA:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Siklus PDCA mencakup elemen-elemen berikut: &#8220;P&#8221; (Rencana) menetapkan tujuan dan proses yang diperlukan untuk memberikan hasil yang diinginkan, &#8220;D&#8221; (Melakukan) melaksanakan tujuan dari langkah sebelumnya, &#8220;C&#8221; (Periksa ) sedang memeriksa data dan hasil yang dikumpulkan dari fase do, dan \u201cA\u201d (Act) meningkatkan proses dan menjalankan kembali siklus PDCA yang baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Konsep PDCA adalah sebagai berikut: PDCA adalah siklus pemantauan, penyesuaian alur kerja atau tujuan berulang-ulang melalui model ini, sehingga mengarah ke perbaikan terus-menerus di seluruh proses.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Cara kerjanya pada setiap tahapan siklus ini adalah sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u201cP\u201d \u2013 Plan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Tetapkan tujuan dan sasaran yang ingin Anda tingkatkan atau kembangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Jelaskan tugas dengan informasi yang jelas dan spesifik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Bentuk tim untuk memenuhi tujuan dan menetapkan tenggat waktu untuk penyelesaian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Mencatat data-data yang diperlukan selama implementasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Buat rencana terperinci dan kemudian analisis setiap tugas, pelaksana, hasil yang diharapkan, operasi atau instruksi, dll. Sebagai dasar untuk fase berikutnya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u201cD\u201d \u2013 Lakukan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Tetap pada rencana yang dibangun pada fase &#8220;P&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Update progres pekerjaan secara berkala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Ikuti jadwal, catat masalah yang muncul selama proses.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u201cC\u201d \u2013 Periksa:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Periksa apakah hasil yang dicapai sesuai rencana atau tidak setelah tahap \u201cD\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Catat semua masalah seperti perubahan, kesalahan, kesulitan, tantangan, dll. yang mempengaruhi proses.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">&#8211; Identifikasi akar penyebab masalah.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u201cA\u201d \u2013 Tindakan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Lakukan \u201cperbaikan bug\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Mengidentifikasi dan membangun pencegahan untuk masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">\u2013 Ulangi langkah PDCA dengan rencana baru sampai tujuan utama akhirnya tercapai.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;\">Secara keseluruhan, siklus PDCA adalah model yang membantu meningkatkan kinerja proses secara konsisten dan terorganisir melalui fase Plan \u2013 Do \u2013 Check \u2013 Act. Oleh karena itu, model ini sangat populer di kalangan perusahaan Jepang.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tips Cara Berkomunikasi dengan Bos dan Bekerja Secara Efisien di Perusahaan Jepang Saat baru bekerja di perusahaan Jepang, tentunya perbedaan budaya dan gaya kerja akan menjadi penghalang besar bagi banyak orang asing. Mungkin sebagian dari Anda akan bertanya-tanya bagaimana cara berkomunikasi dengan atasan Anda secara tepat. Pada artikel ini, kami akan memberikan beberapa tips penting [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":487,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[18],"tags":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/340"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=340"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/340\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":489,"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/340\/revisions\/489"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/487"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wabisabi.media\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}